Bisu tak berarti diam

Bisu tak berarti diam

Rabu, 04 Februari 2015

Nikmati, apapun warnanya!

Tanah baru untuk berpijak, warna baru meretas. Macam rasa yang beranung di dalam benak, segelintir mimpi terendapkan. Memilih jalan ini, tak semudah mengedipkan mata namun juga tak sesulit mengucapkan kata maaf saat kita tak salah. Mengapa demikian? berpindah haluan dari koridor yang sudah lama diimpikan dan menjadi target utama untuk capaian yang disegerakan itu butuh keberanian. Keberanian untuk siap menghadapi semua konsekuensi setelahnya, apa dan bagaimana yang akan mendera diri ini. Pengukuhan atas keputusan diperlukan saben waktunya. Asupan dari berbagai sisipun tak luput dari kebtuhan diri agar terpatri. 
Menyesal? 
Mundur saja?
Itu adalah pertanyaan yang (barangkali) berlarian di pelupuk. Tapi akankah kau akan dikalahkan oleh keadaan? rapuh sekali jika demikian. Manusia macam apa yang model demikian. Semoga tak termasuk di dalamnya. Apapun warna yang tengah dihadapi, nikmati! tenang saja, hidup tak selamanya warna hitam ataupun putih, masih ada warna-warna lain yang bersiap menghiasi hidupmu jika kau mau dan kau menginginkannya. Maka berusahalah untuk kau gapai pelangi, karena kau pun tahu bukan? bahwa pelangi adalah indah. Sungguh mengagumkan jika hidupmu pelangi, kawan. 

Selamat berpijak pada warna-warna baru hidupmu.

Jumat, 16 Januari 2015

Meretas Senja Mengkelabu




Hari ini aku masih ternging dengan suara lembutmu. Namun aku tak bahagia mendengarnya, tersebab apa? Karena ternyata kau tak sama denganku. Aku berniat untuk menjalin pertemanan denganmu, sungguh, tak ada niat lain. Bahkan, jika kau berkenan, aku dan kamu bisa menjadi kawan baik yang bisa saling sapa dan tukar cerita bahagia untuk tertawa bersama. Namun sepertinya itu hanya ilusi dalam benakku saja, kau adalah sebaliknya. Yah, kau memiliki prasangka yang jauh di luar pikiranku, itu melukaiku, kawan. Tak bisakah kau sedikit merasakan aroma untuk baikku dan baikmu?
Kau tak ingin bertemu lagi denganku, sepertinya. Kau menganggap bahwa semuanya adalah angin lalu yang membawa kabar buruk terhadapmu, dan aku adalah bagian dari angin itu. Tak bisakah kau buka matamu pelan-pelan, kawan? Kau ingin aku segera berlalu dan tak menampakkan lagi di depanmu. Itukah yang kau mau? Itu kah yang ingin kau katakan sebenarnya padaku? Jika kau menganggap waktu lalu adalah pertemuan kali terakhir, tapi bagiku, itu adalah pertemuan yang mengawali cerita aku dan kamu.
Terdengar sederhana memang, kau pun mungkin memandangnya demikian terhadap ini. Tapi seperti inilah, awan mengkelabu di sore hari, di penghujung senja yang temaram.

Kamis, 08 Januari 2015

Benar-benar Berdua


Pagi ini, masih uput-uput, aku melihat bulan yang berdampingan hanya dengan satu bintang, romantis sekali. Jarang sekali kudapati pemandangan seperti ini di langit yang masih  sendu berselimutkan awan basah, sungguh indah kawan. Kedua cahaya ini, bulan dan bintang, tak memiliki banyak waktu di saben harinya untuk saling bertatap dan berdampingan. Tapi pagi ini, kudapai keduanya berdampingan dalam jarak yang sungguh dekat, jika dilihat dari tanah bumi, dan keduanya memang hanya (benar-benar) berdua.

Rabu, 07 Januari 2015

Lalu kau mau apa, jika kebaikanmu tak terbalas?

Lalu kau mau apa,  jika kebaikan tak terbalas?
Seketika teringat kata-kata abah, beliau mengatakan bahwasanya tak semua kebaikan dapat diterima dengan baik. Waktu itu, hanya kuperdengarkan dengan lalu saja. Dan ternyata kali ini, aku mengalaminya sendiri. Tersebab apa? mengapa demikian adanya? (barangkali) yang menurutku baik, belum tentu baik juga menurut orang lain. Iyah, orang lain, baik kau, dia, atau pun mereka.

Jika sudah demikian, bagaimana sebaiknya? ikhlaskan saja. Apapun respon dari orang lain terhadap niat baik kita, cukup hadapi dengan senyuman, senyumin aja! Yang terpenting bukanlah respon atau bahkan balasan dari orang lain terhadap kita, tetapi usaha kita untuk selalu berbuat baik dan membaiki orang lain. Jika kita memang tulus, pasti ada balasana langsung dari Yang Maha baik.

So, tak perlu berkecil hati dengan kebaikan yang tak terbalas. karena ini lebih mending dari pada kebaikan yang terbalas dengan kepahitan.Ini lebih menyedihkan, sungguh. Yakinlah, bahwa kebaikan akan selalu ada balasan dariNya. Asalkan semuanya berasal dari yang namanya ketulusan, dari hati. Iya?


Selasa, 06 Januari 2015

Kenyataan yang Jujur

Coba lihatlah ke wajahmu, kawan! lebih baikkah dariku, atau bahkan lebih buruk dariku. Lantas, jika aku salah, apakah itu berarti anda benar? 
Baiklah, jika kau tak mau mengambil cermin untuk melihat dirimu sendiri, itu tak masalah. tapi jangan harap, aku pun akan mengambilkannya untukmu. Tanpa harus bersusah payah aku menyadarkanmu, wahai kawan, akan ada waktu dimana kau tersadar dengan sendirinya oleh alam dan musim yang seiring berganti.
 Kali ini aku atau kau yang salah atau siapakah yang sebenarnya yang melakukan kesalahan? itu tak penting sekarang. Ayolah, turunkan ego dalam diri masing-masing. Ini bukan siapa yang salah atau siapa yang benar, dan bukan siapa yang menang atau siapa yang kalah. Ini adalah tentang jalan yang semestinya dilalui menuju titik. Titik yang bukan akhir, namun sebuah pijakan untuk jalan yang selanjutnya. Tak mau jika kita tetap terbelenggu dalam kubangan persoalan yang sama sekali tak dicari jalan keluarnya.
Ayolah, jalan kita masih panjang. Tak perlu mempersoalkan masalah yang sebenarnya kecil. Dan lagi, tak perlu menyalahkan siapapaun. Tengoklah, Siapa yang ingin disalahkan?
Menghela nafas panjang, lalu pikirkanlah dengan hatimu.

Rabu, 31 Desember 2014

Ia baik, dan setidaknya ia pernah membaiki kita.

Kawan, 
jujur itu memang menyakitkan. tapi apakah kau tahu? bahwa menerima kenyataan yang jujur itu justru dua kali lebih menyakitkan dari pada ia yang mengatakan jujur itu. Ini berlaku jika ini adalah tentang kepahitan dan kegetiran yang menimpali. Sangat melelahkan.
Bukan rasa malu, penyesalan atau bahkan rasa takut untuk kembali melangkah menuju tangga hidup berikutnya. Namun kesungguhan setelah ini, memperjuangkan dan mempertahankan. Karena ini bukan hanya tentang cerita kemarin sore atau pagi yang lalu, tetapi ini adalah cerita yang telah dibangun dengan kesungguhan di waktu-waktu yang lalu hingga kini. 
Tak apa jika cerita ini masih banyak luka dan perih yang menyayat. Tak apa jika cerita ini belum sempurna. Karena pada dasarnya memang kita tak bisa untuk selalu membuat cerita yang bahagia. Aku tak memungkiri itu, karena kau harus tahu bahwa hidup itu banyak warna, kawan. nikmatilah setiap warna yang tengah kau dapati dalam tangga hidupmu. Jika kau tergelincir dan terjatuh dari sana, itu sudah biasa. Bangkitlah! Itu akan menjadi cerita yang berharga jika kau mampu mengambil tetesan-tetesan pelajaran untuk memupuk kembali semangatmu. 
Dari awal hidupku, aku bertekad tak akan pernah menyerah pada keadaan. Jalani saja. Apapun masalah yang menimpali, pasti ada solusinya. Lihatlah apa yang tengah kau hadapi dari berbagi sudut kebaikan, maka kau kan lebih terbuka untu menjadi lebih bijak. Jika kau marah, itu sudah semestinya. namun, jangan kau luapkan kemarahanmu dengan tindakan keburukan karena itu hanya akan membuat dirimu menjadi tak berharga. memaafkan memang tak mudah, tapi itu juga tak sulit, kawan. jika kau coba melatih untuk menata hati kamu sebenar-benar tulus. 
Apakah kau tahu? dan sepertinya memang kau harus mengetahuinya dan menerapkan dalam dirimu, bahwa ada dua hal yang harus selalu kau ingat dan dua hal yang harus segera kau lupakan. 
Kebaikan orang lain terhadapmu dan kesalahanmu terhada orang lain, itu yang harus selalu kau ingat. Untuk apa? agar kau tak mudah membenci orang lain dan selalu membuatmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.dan yang harus segera kau lupakan adalah kebaikanmu terhadap orang lain dan kesalahan orang lain terhadap diri kita. Untuk apa? agar kau tak menjadi orang yang sombong dan merasa paling baik juga agar kau menjadi orang yang mudah untuk memaafkan. Memaafkan itu indah tanpa perlu dibumbui rasa benci. Karena diantara kesalahan-kesalahan yang dilakukan, ada celah kebaikan yang pernah dilakukan, dan setidaknya dia pernah membaiki kita. Dan kau tahu? bahwa dalam kebaikan terdapat ketulusan yang sesungguhnya.

So, Mari perjuangkan cita dan cinta untuk masa depan yang bahagia dengan tanpa kebencian :)

Senin, 29 Desember 2014

Siap Tempur !

Biarkan kunikmati semua rasa yang tegugu hari ini. Akan kurampungkan sampai berhentinya waktu untuk tahun yang hebat ini.
Siap bertempur untuk mimpi selanjutnya. Akan kuarungi laut yang baru, dengan ombak dan gelombak yang baru, akankah lebih besar atau lebih kecil, bahkan lebih lembut. Apapun itu, aku tak akan lelah untuk mendayung perahu kecil yang kubangun sendiri mencapai pulau indah penuh pesona yang menawan. Bahkan, tak hanya aku yang ingin mencapainya. Mari berlomba-lomba meraih mimpi yang gemilang.