seperti ini, hidupku saat ini.
jiwaku telah basah, pun dengan hatiku yang sempat kemarau. tak perlu menunggui hujan yang tak pasti kapan derasnya. cukup dengan tetesan embun yang kerap membawa kabar bahagia saben harinya bersama daun yang setia mendekap.
ini lebih indah ^^
membiarkan hati ini menjadi pemeran utamanya dan berakhir bahagia nantinya bermuara pada tempat yang semestinya
:)
Bisu tak berarti diam
Minggu, 01 Desember 2013
Minggu, 24 November 2013
Terlambat Pulang
Dengan
hati yang tak ingin berpaling, kaki yang tak ingin beranjak
hati
kian kelu memanggili namamau, lirih
semoga
sampai pada muaramu.
Dalam
dekapan malam yang kian bisu, kubergertar
karena rindu yang menjalar hingga ulu hingga pagi menjelang. Menetes lalu
mengalir, terasa hangat di pipi. Mungkin inilah aliran yang sebenarnya; air
mata.
Mungkin
sudah terlambat, jika saat ini aku kembali. Saat telah kutemukan jalan pulang
tanpa harus kau tuntun seperti janjimu yang akan menuntunku kembali. Bagaimana
aku? sedang aku terus melangkah menuju rumah yang sebenarnya. Terlalu lama ku
menikmati keindahan semu di luar rumah yang ternyata tak lebih indah dari rumah
yang sesungguhnya; yaitu kamu.
Mungkin
sudah terlambat, jika saat ini kucoba untuk menghidupkan kembali cahaya yang
sempat padam. Terpadamkan oleh angin dari setiap sisi duniawi. Cahaya yang kau
pertahankan saat angin yang begitu kencangnya menghempas tanpa belas kasih
bahkan tanpa sisa.
Mungkin
sudah terlambat, jika saat ini kuraih tanganu. Kugandeng tanganmu untuk kembali
menapaki jembatan yang pernah lapuk, payah oleh badai yang kutebar padamu.
Kuajak engkau menuju musim semi yang bahagia seperti mimpiku dan mimpimu.
***
.”Apa
kabarmu”, sapaku memulai perbincangan di tengah rumput hijau bertebar wewangian
bunga di taman penantian hati
“Sama
denganmu”, jawabmu tanpa sedikit pun melihat ke arahku.
“Lalu
bagaimana kabar hatimu, Bagaimana harusnya aku untuk mengobati luka yang
kutebar tepat di hatimu?”, masih saja tatapan tertuju pada sudut yang tanpa
makna
“Terlambat”,
tanpa sapaan sedikitpun kau beranjak
melangkah meninggalkanku yang tengah duduk gemetar tak percaya kenyataan.
Barangkali
permohonan maafku padamu pun sudah terlambat. Mata dan telinga ini mulai
membaca dan mendengar apa yang pada dirimu sekarang. Mungkin saja kau telah
payah. Saat kau merasakan ketulusan dan kesetianmu tak berarti apapun di
mataku. Saat surat-suratmu yang kau bubuhkan darahmu di akhir tulisanmu tak
terbalas olehku. Surat yang kau titipkan pada temanku saat aku sudah terlelap
dan tepat berada di depanku saat aku membuka mata. Surat yang selalu berberntuk
hati berisikan ungkapan atas hatimu yang memintaku untuk kembali.
Mungkin
lantaran inilah kau perlahan menjauh. Langkahmu mundur satu persatu, sangat
perlahan. Namun masih sempat terbaca olehku. Maaf atas perlakuanku yang
ternyata menyurutkan hatimu, memadamkan cahaya yang susah payah kau
pertahankan.
***
Duduk
sendiri dalam buaian purnama. Suara malam berbisik lirih, mengajakku untuk
sekedar mengembangkan senyum pada garis wajah yang telah lama tegantikan air
mata. Pandanganku terarah pada bintang yang tengah sendiri seperti keadaanku
saat ini. Tak ingin beranjak ataupun melanjutkan langkah karena hati yang
terlanjur terhuni oleh rasa penyesalan membelenggu. Cahanya mengajakku
mengingat kisah yang lalu yang semakin menyakitkan. Kau datang padaku,
mengabarkan hatimu yang tengah kesakitan atas pilihanku yang ternyata tak
memilihmu. Aku memilih untuk memadamkan cahaya yang hamper dua tahun kita hidupkan.
Dan mengubur mimpi menuju musim semi yang bahagia bersamamu.
Matamu
yang semakin deras oleh airmata dan ucapanmu yang terbata-bata menyentuh hati
yang sudah terlanjur menjatuhkan pilihan.
“Katakana
padaku, benarkah engkau telah memilihnya?”, tanyamu lirih menatap mataku yang
berusaha untuk tak terbawa dengan lukamu. Aku terdiam, lisanku kelu.
“Jawablah
pertanyaanku. Apa arti diammu saat ini. Apakah ini memang benar adanya bukan
mimpiku semata?”, matamu semakin berkaca-kaca.
Anggukan
kepalaku yang sedari tadi menahan air mata menetes menjadi jawaban atas hatiku
yang tengah kau pertanyakan saat ini.
“Apakah
kau telah ingkar dengan janjimu. Janji untuk selalu menjaga hati atas cahaya?”,
dengan terbata seraya tetesan air mata mengiringi.
Aku
terbawa oleh lukamu yang telah terpatahkan separuh sayapmu olehku hingga
usahaku pun sia-sia menahannya; air mataku menetes bahkan mengalir namun tak
sederas air matamu. Hening. Hanya suara sesenggukan atas tangismu yang kudengar
malam ini.
“Aku akan menunggumu. Cahaya akan menuntunmu
pulang ke rumah yang sebenarnya jika kau ternyata telah tersesat di jalanmu
yang saat ini telah kau pilih. Izinkan cahaya untuk membawamu pulang. Sampaikan
padanya, selamat telah mendapatkan perempuan yang paling kucintai”, lisanku masih
saja kelu. Dan bahkan saat ini air mataku menganak sungai. Lebih deras dari air
matamu.
Dan
kini, saat aku tengah menemukan celah ditengah tersesatnya aku lalu menyusuri
jalan pulang tanpa kau tuntun harus berlinang air mata. Rumah tempat kukembali
telah terhuni oleh orang lain.
***
Mungkin
sudah terlambat, jika saat ini kubicara tentang ketulusan dan kesetiaan.
Ketulusanmu yang kuacuhkan dan
kesetiaanmu yang kubuang.
Semoga
aku tak terlambat untuk sampaikan terima kasih padamu. Terima kasih untuk perjuanganmu
atas hati yang mungkin telah menyia-nyiakan ketulusanmu. Terima kasih telah
meminjamkan bahu saat aku tengah kesakitan di malam-malam yang pasi waktu lalu.
Terima
kasih engkau telah mengajarkanku untuk lebih bersikap dewasa dalam menjalani
kesakralan sebuah kesetiaan atas nama cinta. Dan semoga setelah ini aku akan
menjadi orang yang selalu belajar ketulusa yang sebenar-benar ketulusan dan
kesetiaan yanag sebenar-benar kesetiaan.
Janur
kuning melengkung tepat di depan rumahmu. Sebait puisi kulayangkan padamu
ditengah gerimisnya jiwa.
Pernah
kau memintaku untuk kembali, kau serius padaku
Kau
rela menangis karenaku atas luka yang kutebar tepat dihatimu
Namun
kini,
Akulah
yang sebenarnya perempuan yang paling menyesal karena tak memilihmu.
Aku
yang terbujuk oelh keindahan semu semata
Namun
aku bahagia,
Atas
kebahagiaanmu menemukan rumah yang sebenarnya
Rumah
tempat untuk berteduh, atas hujan yang kuturunkan padamu
Rumah
yang mampu memberikan kesejukan atas kegersangan yang kuluapkan padamu.
***
Kau adalah sosok yang berharga.
Beribu pelangi telah kau lukis dalam kisahku. Terima kasih.
Sabtu, 26 Oktober 2013
Tipuan Hujan
selamat pagi,
apa kabar hatimu pagi ini?
semoga tak seperti langit yang menggantung pagi ini, mendung.
hujan yang basah sejak tadi sore hingga malam tadi masih saja menyisakkan aroma yang bergulat bersama embun.
teringat hari kemarin saat kita, aku dan kamu menunggi hujan yang tak kunjung basah. sesekali gerimis yang hanya beberapa, ternyata hanya tipuan. seakan sudah sepakat bersama langit yang sudah berwarna kehitaman.
aku dan kamu duduk bersebelahan dengan suara burung yang tengah berlarian bersama kawan di udara dan celotehan daun yang terhempas oleh angin. Demikian angin yang sedari tadi berbisik seakan membawa kabar bahwa hujan segera datang.
ah, langit dan angin sekongkol untuk membuat tipuan ini.
tapi tetap saja, kau meneguhkan dan menguatkan padaku
"bersabarlah", ujarmu lirih meguatkan.
yah, hanya itu.
dan akhirnya aku dan kamu beranjak. barangkali ini belum waktunya untuk menikmati dan mengguyur jiwa yang tengah kemarau. belim saatnya jiwa untuk basah.
mungkin lain waktu aku dan kamu benar merasakan tiap tetesan hujan diantara yang beribu bersama dengan rasa yang tanpa beban di pundak dan dengan tawa yang lepas meriuhkan cakrawala
semoga
:)
Jumat, 25 Oktober 2013
Seperti ini, Kita
terima kasih
untuk apa?
terlalu payah untuk sekedar mengucapkannya bila dibandingkan dan disejajarkan dengan apa yang telah diberikan padaku.
meski tak pernah meminta, namun justru semakin deras engkau memberikannya padaku.
mengapa engkau?
sedalam apakah rasa itu. hati ini bertanya namun sebenarnya tak ingin mengetahunya. aku bisa apa?
apa yang bisa kuperbuat lantaran semua ini.
diam.
meski kutahu itu tak akan menyelesaikannya namun hanya itu yang bisa kuperbuat.
cobalah kau katakan padaku, apa yang seharusnya kulakukan tanpa harus menjadi penyebab luka orang lain,
berharap engkau dapat membaca yang sebenarnya.
(barangkali) engkaupun saat ini tengah gontai dengan apa yang tengah di hadapan.
semoga kan ada jalan
:)
untuk apa?
terlalu payah untuk sekedar mengucapkannya bila dibandingkan dan disejajarkan dengan apa yang telah diberikan padaku.
meski tak pernah meminta, namun justru semakin deras engkau memberikannya padaku.
mengapa engkau?
sedalam apakah rasa itu. hati ini bertanya namun sebenarnya tak ingin mengetahunya. aku bisa apa?
apa yang bisa kuperbuat lantaran semua ini.
diam.
meski kutahu itu tak akan menyelesaikannya namun hanya itu yang bisa kuperbuat.
cobalah kau katakan padaku, apa yang seharusnya kulakukan tanpa harus menjadi penyebab luka orang lain,
berharap engkau dapat membaca yang sebenarnya.
(barangkali) engkaupun saat ini tengah gontai dengan apa yang tengah di hadapan.
semoga kan ada jalan
:)
Rabu, 23 Oktober 2013
Alone
Wahai para daun senja,
Aku tahu sedari tadi engkau lekat sekali menatapku bahkan sesekali mentertawakanku.
Engkau yg tengah bergurau dengan angin mengejekku yang tengah sendiri, tanpa teman. Memilukan.
Untung saja, air mata ini masih tertahan; aku tak semakin ditertawakan.
#17:36
Aku tahu sedari tadi engkau lekat sekali menatapku bahkan sesekali mentertawakanku.
Engkau yg tengah bergurau dengan angin mengejekku yang tengah sendiri, tanpa teman. Memilukan.
Untung saja, air mata ini masih tertahan; aku tak semakin ditertawakan.
#17:36
Kamis, 10 Oktober 2013
tentang mimpi
hujan yang kian menderas ini mengantarkanku pada sebuah lamunan yang cukup panjang tentang mimpi. aku pun pernah punya mimpi seperti mereka hingga detik ini mimpi itu pun masih kuat tertanam lalu terpatri dalam hati dan menjelma menjadi semangat dan ghiroh yang tak ada batas. meski semangat terkadang melemah bahkan hampir sirna namun dapat teratasi meski dengan merangkak payah.
ini tentang mimpi yang masih diawang. mimpi besar mungkin, namun ada rasa yang terkadang membuatku minder lalu muncul pertanyaan dalam diri, apa mungkin?
dengan apa dan dengan siapa aku menceriterakan mimpiku. kemana langkahku yang seharusnya?
menuju jalan yang lurus itu ataukah yang berbelok dengan kerikil tajam menghadang? jurang yang menganga dan jalanan terjall ...:?(
mengerikan !
ah, aku saja masih diambang seperti ini.
menyedihkan :(
Jumat, 04 Oktober 2013
ini tentang pilihan
ini adalah pilihan bukan ketetapan. sekali lagu, ini adalah pilihan.
ketika hati berada di ambang, mungkin diam akan lebih baik.
hati ini memilih untuk berjalan pada jalanku sendiri, biarkan tak termiliki oleh siapapun. meredam perasaan yang kian menjulang memang tak mudah namun akan terasa indah jika dinikmati, perlahan.
apapun yang akan terjadi setelah ini, akan aku terima konsekuensi atas pilihan hati yang seperti ini.
Always be positive
:)
ketika hati berada di ambang, mungkin diam akan lebih baik.
hati ini memilih untuk berjalan pada jalanku sendiri, biarkan tak termiliki oleh siapapun. meredam perasaan yang kian menjulang memang tak mudah namun akan terasa indah jika dinikmati, perlahan.
apapun yang akan terjadi setelah ini, akan aku terima konsekuensi atas pilihan hati yang seperti ini.
Always be positive
:)
Langganan:
Postingan (Atom)
